Desember 27, 2008

Misa byar-pet!


Hiduplah dengan Perdamaian dengan Semua Orang
Malam Natal saya mengikuti Misa di Gereja-stasi Bunda Maria, Maguwoharjo. Di Jogja banyak gereja yang terletak di tengah-tengah kompleks rumah penduduk, termasuk stasi yang tadi disebut. Jarak antara satu gedung gereja dengan gereja lainnya di kotamadya Jogja relatif dekat, tidak seperti di kampung halaman saya yang mau mendirikan gedung gereja saja cukup sulit. Kita bersyukur atas anugrah hidup berdampingan dengan semua orang. Di Jogja hal itu sungguh terasa.

Pukul 18.00 misa malam Natal dimulai. Hanya ada satu kali misa malam itu. Liturgi malam Natal tetap tak berubah banyak dengan tahun-tahun lalu di gereja berbeda yang saya ikuti. Begitulah gereja Katolik, semuanya sama, bacaannya, tata urutannya, dll. Bahkan, homili pastornya sama membosankannya, ha ha ha. Tema Natal di stasi itu sama dengan tema KWI-PGI, yakni 'Hiduplah dengan Perdamaian dengan Semua Orang'.

Nah, ada bagian yang tak terduganya terjadi waktu misa kemarin. Saat pastor mengakhiri mengumandangkan kisah institusi yang sakral itu, saat dia berucap "marilah mengagungkan misteri iman ki...". Pet! Tiba-tiba mati listrik. Pastornya juga kaget karena dia sempat terhenti melanjutkan kata-katanya tadi. Untunglah masih ada cahaya lilin di altar, sehingga dia bisa melanjutkan beberapa detik kemudian.

Listrik yang mati ternyata hanya di dalam gedung. Sementara listrik di tenda di luar gak mati. Saya kebetulan duduk di tenda, sehingga kami yang duduk di tenda berfokuskan kegelapan. Sampai Bapa Kami dinyanyikan, listrik belum juga nyala. Terpaksa koor menyanyi tanpa iringan organ, dan umat yang di luar/di tenda musti menunggu umat di dalam dulu untuk menjawab doa-doa yang menjadi bagian umat, sebab kami di luar tidak dengar sama sekali apa kata pastor.

Gak tau deh apa yang terjadi waktu Salam Damai di dalam gedung. Sambil gelap-gelapan, meraba-raba tangan tapi gak lihat wajahnya, he he he. Sewaktu Komuni pun masih mati. Kami harus mengantre komuni ke pintu samping gereja yang masih setengah termakan gelap. Entah karena gelap atau teledor, prodiakon menjatuhkan satu hosti tepat sebelum dia membagikan hosti ke saya. Ya ampuun, pertanda apa ini, batin saya...

Akhirnya lampu kembali menyala menjelang Doa Sesudah Komuni. Nyalanya lampu itu diikuti dengan sorakan "whaaaa..." dari umat di dalam gedung. Namun, dua detik kemudian kemudian, mati lagi. Umat "whaaa..." lagi. Dua detik lalu menyala lagi. Umat terus "whaaa..". Saya yang di luar hanya bisa cekikikan.Ketua Panitia alhasil minta maaf sebelum misa bubar. I

Ini merupakan mati lampu kedua buat saya sewaktu perayaan natal. Dua tahun lalu, mati listrik juga terjadi di tengah-tengah berjalannya misa malam Natal (atau Paskah saya lupa) di Gereja St Antonius Kotabaru. Saya lagi bertugas sebagai program director di balkon waktu itu. Untung saja Gereja Kotabaru punya mas Ugik, si memedi listrik. Dan gak sampai lima menit sudah nyala lagi. Di Kotabaru, siapapun wajib berkonsultasi masalah pelistrikan gereja dengan dia.

Pelajaran yang dipetik dari cerita ini mungkin umat Stasi Bunda Maria perlu menyewa mas Ugik untuk kasih pelatihan ke bagian listrik di stasinya, he he. Jangan sampai kegelapan mengalahkan terang. Karena dengan bimbingan terang kita bisa melihat dan menyelami wajah demi wajah, dan hidup berdampingan dengan damai dengan semua orang. Damai di surga sudah pasti. Semogapun di bumi, juga di Timur Tengah, di rumah kita, dan di hati kita.

Selamat Natal!

Ramalan Cuaca

Click for Jakarta Observatory, Indonesia Forecast