Juli 28, 2007

~ looney ~


Saya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Itu terjadi di bioskop saat saya dan beberapa kenalan menonton film adaptasi Harry Potter dan Orde Phoenix. Sebenarnya saya sudah menyemai benih-benih cinta padanya di hati (bukan di tanah gembur) tatkala dua tahun lampau membaca buku ke-5 ibu Rowling itu.

'Looney' Lovegood. Entah karena simpati atau kasihan, saya tidak bisa membedakannya. Tapi saya menaruh hati sejak kemunculannya di buku ke-5. Tapi, (saya memang jenis manusia yang banyak tapinya) saat itu saya tidak menyangka 'Looney' Lovegood bakal diperankan oleh gadis 14 tahun yang menawan. "Terlalu cantik", ujar teman di bangku sebelah dengan tatapan iri. Tentu yang terakhir ini saya buat-buat karena tidak mungkin melihat tatapan orang dengan jelas di bioskop yang gelap. Kalau meraba dengan jelas itu lain hal.

'Looney' memang karakter kedua yang paling saya sukai setelah Snape. Ketiga adalah Neville. Ketiganya memang aneh. Aneh dalam arti tidak seperti orang kebanyakan. "Orang kebanyakan itu seperti apa, Mas. Kebanyakan duit ane juga mau", celetuk teman saya lagi.

Misterius. Kurang begitu diterima oleh lingkungannya, karena tabiat kebiasaannya. Mungkin itu. Mengingat Looney membaca The Quibbler dengan terbalik (kalau saya pernahnya memakai celana dalam terbalik, Anda boleh mencobanya sebagai variasi), memakai pernak-pernik yang norak, melihat benda-benda yang tidak dapat dilihat orang, nyentrik (atau eksentrik saya tidak hapal letak perbedaannya. Akibatnya, orang jenis ini sering 'dilupakan', dijauhi, dan, tentu, dibilang sinting.

Saya hampir memastikan dalam dunia sihir yang sebenarnya, 'Looney' pasti sedikit sekali kawannya. "Berarti sekarang kita hidup di dunia yang tidak sebenarnya donk, say", cerocos teman saya. Ia juga pasti kerap mengurung diri di kamar dengan membaca buku. Sama seperti saya, tapi kalau saya di kamar mandi, dan tidak membaca buku.

Waktu kecil dulu, saya juga sering berbicara sendiri. Bermain sendiri. Tertawa sendiri. Di kamar sendiri. Kemana-mana sendiri. Saya juga tidak punya teman sebaya. Alhasil saya membuat teman sendiri. Mungkin di masa kini, anak seperti itu sudah digolongkan sebagai penderita autis.

Severus pun di masa mudanya adalah korban bullying. Dia dianggap aneh dan selalu dikerjain teman-temannya. Saya paham mengapa tabiat Snape seperti itu. Dan saya benar-benar mengerti akan cinta abadinya terhadap Lily. "Love is an art, bo", kata teman saya mengambil judul buku Erich Fromm yang kenamaan itu.

Sementara Neville, sering gagap dan tidak menarik perhatian. Severus berasal dari keluarga yang tidak terjalin baik relasinya, Luna ditinggal mati ibunya saat kecil. Ibunya juga saya duga aneh dengan percobaan-percobaannya. Neville harus merana karena orangtuanya, yang lebih baik mati, ada di St.Mungo.

Saya tidak perlu menegaskan bahwa saya menyukai kedua karakter itu, dan sedikit pada Neville, karena pengalaman dan jalan hidup mereka sangat dekat dengan hidup saya. Saya kadung mencintai diri mereka dan saya yang misterius. Orang memang selalu memandang sebelah mata pada anggota masyarakat yang eksentrik, dan tidak mau tunduk pada kaidah-kaidah umum.

Tapi orang-orang seperti itu setia pada kelompoknya yang kecil. Setidaknya yang dilakukan Luna dan Severus. Orang-orang yang tidak populer tidak terpengaruh oleh popularitas itu sendiri dan hal-hal turunannya. Mereka menjadi diri mereka sendiri, dan yakin terhadap dirinya.

"During Harry's time at the Lovegood residence, he notices a painting of himself on Luna's bedroom ceiling. Investigating further, he climbs up to discover very lifelike paintings of himself, Hermione, Ron, Ginny and Neville, all interlinked by small gold chains, which, upon closer inspection, he discovers to be the word 'friends', written over and over again in tiny gold lettering. This sight evokes a feeling of great affection within Harry, as it becomes suddenly clear just how much Luna values her friendships", begitu seperti dikutip Wikipedia.

Sementara Severus, secara tak terduga, menyimpan cinta setia yang tak terbagi pada Lily. Walaupun Lily tak pernah memaafkannya, Severus menyatakan kesetiaannya lewat Albus, dan anak Lily.

Neville dan Luna, hanya keduanya yang setia terhadap panggilan Dumbledore's Army untuk mempertahankan Hogwarts dari serangan Pelahap Maut.

Mereka bertiga bukan orang yang populer, dan sepertinya tidak menjadi pilihan pertama bagi orang lain untuk menjadikan mereka sebagai sahabat. Luna dan Severus, mereka berdua dingin dan penyendiri.

Sementara ada banyak orang yang berlomba-lomba menjadi populer, dan takut pada kesendirian. Tapi saya dan mereka tidak.

Dan setelah ini, Anda mungkin menyebut saya aneh.

"Kalau cantik seperti Evanna sih tidak masalah. Kalau aneh, sinting dan jelek kayak ente, yah mau digimanain lagee", sambar teman saya. Ya, maka dari itu saya jatuh cinta.*

Juli 27, 2007

~ aib ~


Ngeri juga ya rasanya baca komentar SBY pada Zaenal Ma'rif. "Jika harga diri dan kehormatan seseorang itu sudah dilanggar, orang itu tidak boleh diam," begitu kata SBY seperti dikutip KCM. SBY pasti berang akibat ulah anggota Dewan yang kini sudah hengkang dari kantornya itu. Lha bagaimana tidak kesal wong SBY dikatakan sudah menikah bukan dengan Ibu Ani dan punya anak sebelum masuk Akabri. Dua lagi anaknya.

"Berita seperti ini tentu akan sangat menghancurkan hati dan perasaan orang tua saya, istri dan anak-anak saya, keluarga besar, kawan-kawan saya sewaktu di SMA, waktu di Taruna, dan sebagainya," tambah SBY di detiknews.com. Duh, saya mencoba membayangkan hancurnya perasaan SBY dan keluarganya, yang sebenarnya tidak bisa dibayangkan, sambil mencari-cari apa pernah ya saya sehancur perasaannya seperti yang hari-hari ini dialami SBY.

Koq SBY sentimentil amat sih, pikir saya sambil mendendangkan lagu 'hancur hatiku mengenang dikau..' yang selanjutnya saya tidak hapal liriknya.

Setelah sedikit merenung-renung, sambil makan juga bersama teman, saya koq jadi ngeri ya kalau seandainya jadi pejabat publik. "Yee, apes banget rakyat yang ente pimpin," kata teman saya disamping. Gimana tidak ngeri, wong belum jadi pejabat publik saja sudah punya setumpuk catatan gak beres tentang hidup saya. "Emang siapa yang kurang kerjaan mau nyatet hidup ente," sosornya lagi. "Dan juga kawan-kawan SMA siapa juga yang mau peduli ama elo?". lanjutnya.

Bagaimana kalo nanti di tengah saya mengemban amanat rakyat (kalau diperhatikan mengapa amanat harus didahului mengemban ya?) ada teman saya yang mulutnya gatel. Entah itu karena tidak suka sikat gigi atau pengennya makan yang enak-enak terus padahal cukupnya cuma untuk tahu tempe saja (padahal kenyataannya kedelai itu diimport loh). Lalu mereka bilang pada media massa bahwa saya dulu pernah tidak naik kelas, atau saya hobinya memplagiasi karya tulis orang waktu kuliah, atau saya ini begitu kejam mencoret nama-nama teman yang menurut saya tidak pantas diikutkan dalam makalah tugas kuliah.

Mereka yang dulu pernah saya kecewakan atau saya tusuk (dari belakang) pasti membuat cerita yang lebih lagi, sesuai kadar sakitnya karena tusukan (dari belakang) itu. Jangan-jangan mereka bakal membeberkan bahwa saya pernah selingkuh, punya istri simpanan atau jangan-jangan bahwa saya ini adalah gay. "Coba gue tahu dari dulu kalau lo itu sakit, sapa sih yang nolak brondong, manis lagi," bisik temen saya sambil menyuap dan sesekali melirik. Dia belum tahu kalau yang manis-manis itu sering dijauhi orang. Gula maksudnya.

Tentu saya bisa memahami kalau mereka pernah sakit hati sama saya. Dan saat saya menjadi pejabat, itu peluang emas untuk bagi mereka yang pernah saya sakiti, entah supaya terkenal, mendapatkan uang dan jabatan, atau iseng. Masalahnya adalah sampai hidup saya yang sekarang ini, saya kerap membuat geram orang dan menusuk-nusuk perasaannya. "Mau donk ditusuk," sambar teman saya.

Mungkin mulai saat ini saya harus membaiki-baiki orang, supaya mereka tidak balas dendam membuka aib-aib saya nantinya. Apalagi kalau mantan-mantan saya yang membuka aib (tentu bukan mantan majikan, karena saya bukan tukul). Duh, bisa repot.

"Makanya cukup korengan aja yang gatel, bagian tubuh yang lainnya jangan ikutan gatel," celetuk teman saya sambil ngeloyor.

Mungkin saya akan mengikuti jejak SBY. Berlindung pada hukum "Dan saya akan gunakan hukum itu dengan tegas dengan determinasi saya, demi tegaknya kebenaran dan keadilan, demi kehormatan dan harga diri saya sebagai seorang warga negara, salah satu dari orang Indonesia dan demi orang tua saya, keluarga saya dan handai taulan saya," ungkap SBY di detiknews.com lagi.

Kalau saya sih demi gak kehilangan pekerjaan saya saja.

"Lalu?," tanya teman saya. Lalu ya bilang ke media bahwa itu kabar bohong, fitnah, jahat. Keterlaluan orang yang memfitnah saya itu. Pikirkan donk bagaimana keluarga saya tertekan mendengar masalah ini. (Tentu bicaranya sambil memakai gerakan-gerakan tangan donk, istilahnya gerakan non-verbal. Supaya kelihatan meyakinkan!) Biar sreg juga ditekankan bahwa itu adalah pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan, dan character assasination.

"Lantas apa beda pejabat dan artis donk kalau begitu?", sambarnya.

Bedanya, kalau hukum tidak mempan, saya akan pakai jurus terisak-isak, seperti yang banyak media beritakan tentang SBY sewaktu mendengar jeritan korban Lapindo yang datang ke Cikeas.

"Setelah itu ente mau apa?" lanjut teman saya. "Ya, naik helikopter dan melambai-lambai, business as usual lah."*

Juli 26, 2007

~ preambule ~

DUC IN ALTUM
Setelah selesai mengajar, Ia berkata kepada Simon, "Berdayunglah ke tempat yang dalam, dan tebarkan jalamu untuk menangkap ikan."


"Bapak Guru," jawab Simon, "sepanjang malam kami bekerja keras, namun tidak menangkap apa-apa! Tetapi karena Bapak suruh, baiklah; saya akan menebarkan jala lagi."

Sesudah mereka melakukan itu, mereka mendapat begitu banyak ikan sampai jala mereka mulai robek.

(Luk 5:4-6 Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari)

Ramalan Cuaca

Click for Jakarta Observatory, Indonesia Forecast