
Saya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Itu terjadi di bioskop saat saya dan beberapa kenalan menonton film adaptasi Harry Potter dan Orde Phoenix. Sebenarnya saya sudah menyemai benih-benih cinta padanya di hati (bukan di tanah gembur) tatkala dua tahun lampau membaca buku ke-5 ibu Rowling itu.
'Looney' Lovegood. Entah karena simpati atau kasihan, saya tidak bisa membedakannya. Tapi saya menaruh hati sejak kemunculannya di buku ke-5. Tapi, (saya memang jenis manusia yang banyak tapinya) saat itu saya tidak menyangka 'Looney' Lovegood bakal diperankan oleh gadis 14 tahun yang menawan. "Terlalu cantik", ujar teman di bangku sebelah dengan tatapan iri. Tentu yang terakhir ini saya buat-buat karena tidak mungkin melihat tatapan orang dengan jelas di bioskop yang gelap. Kalau meraba dengan jelas itu lain hal.
'Looney' memang karakter kedua yang paling saya sukai setelah Snape. Ketiga adalah Neville. Ketiganya memang aneh. Aneh dalam arti tidak seperti orang kebanyakan. "Orang kebanyakan itu seperti apa, Mas. Kebanyakan duit ane juga mau", celetuk teman saya lagi.
Misterius. Kurang begitu diterima oleh lingkungannya, karena tabiat kebiasaannya. Mungkin itu. Mengingat Looney membaca The Quibbler dengan terbalik (kalau saya pernahnya memakai celana dalam terbalik, Anda boleh mencobanya sebagai variasi), memakai pernak-pernik yang norak, melihat benda-benda yang tidak dapat dilihat orang, nyentrik (atau eksentrik saya tidak hapal letak perbedaannya. Akibatnya, orang jenis ini sering 'dilupakan', dijauhi, dan, tentu, dibilang sinting.
Saya hampir memastikan dalam dunia sihir yang sebenarnya, 'Looney' pasti sedikit sekali kawannya. "Berarti sekarang kita hidup di dunia yang tidak sebenarnya donk, say", cerocos teman saya. Ia juga pasti kerap mengurung diri di kamar dengan membaca buku. Sama seperti saya, tapi kalau saya di kamar mandi, dan tidak membaca buku.
Waktu kecil dulu, saya juga sering berbicara sendiri. Bermain sendiri. Tertawa sendiri. Di kamar sendiri. Kemana-mana sendiri. Saya juga tidak punya teman sebaya. Alhasil saya membuat teman sendiri. Mungkin di masa kini, anak seperti itu sudah digolongkan sebagai penderita autis.
Severus pun di masa mudanya adalah korban bullying. Dia dianggap aneh dan selalu dikerjain teman-temannya. Saya paham mengapa tabiat Snape seperti itu. Dan saya benar-benar mengerti akan cinta abadinya terhadap Lily. "Love is an art, bo", kata teman saya mengambil judul buku Erich Fromm yang kenamaan itu.
Sementara Neville, sering gagap dan tidak menarik perhatian. Severus berasal dari keluarga yang tidak terjalin baik relasinya, Luna ditinggal mati ibunya saat kecil. Ibunya juga saya duga aneh dengan percobaan-percobaannya. Neville harus merana karena orangtuanya, yang lebih baik mati, ada di St.Mungo.
Saya tidak perlu menegaskan bahwa saya menyukai kedua karakter itu, dan sedikit pada Neville, karena pengalaman dan jalan hidup mereka sangat dekat dengan hidup saya. Saya kadung mencintai diri mereka dan saya yang misterius. Orang memang selalu memandang sebelah mata pada anggota masyarakat yang eksentrik, dan tidak mau tunduk pada kaidah-kaidah umum.
Tapi orang-orang seperti itu setia pada kelompoknya yang kecil. Setidaknya yang dilakukan Luna dan Severus. Orang-orang yang tidak populer tidak terpengaruh oleh popularitas itu sendiri dan hal-hal turunannya. Mereka menjadi diri mereka sendiri, dan yakin terhadap dirinya.
"During Harry's time at the Lovegood residence, he notices a painting of himself on Luna's bedroom ceiling. Investigating further, he climbs up to discover very lifelike paintings of himself, Hermione, Ron, Ginny and Neville, all interlinked by small gold chains, which, upon closer inspection, he discovers to be the word 'friends', written over and over again in tiny gold lettering. This sight evokes a feeling of great affection within Harry, as it becomes suddenly clear just how much Luna values her friendships", begitu seperti dikutip Wikipedia.
Sementara Severus, secara tak terduga, menyimpan cinta setia yang tak terbagi pada Lily. Walaupun Lily tak pernah memaafkannya, Severus menyatakan kesetiaannya lewat Albus, dan anak Lily.
Neville dan Luna, hanya keduanya yang setia terhadap panggilan Dumbledore's Army untuk mempertahankan Hogwarts dari serangan Pelahap Maut.
Mereka bertiga bukan orang yang populer, dan sepertinya tidak menjadi pilihan pertama bagi orang lain untuk menjadikan mereka sebagai sahabat. Luna dan Severus, mereka berdua dingin dan penyendiri.
Sementara ada banyak orang yang berlomba-lomba menjadi populer, dan takut pada kesendirian. Tapi saya dan mereka tidak.
Dan setelah ini, Anda mungkin menyebut saya aneh.
"Kalau cantik seperti Evanna sih tidak masalah. Kalau aneh, sinting dan jelek kayak ente, yah mau digimanain lagee", sambar teman saya. Ya, maka dari itu saya jatuh cinta.*
Itu terjadi di bioskop saat saya dan beberapa kenalan menonton film adaptasi Harry Potter dan Orde Phoenix. Sebenarnya saya sudah menyemai benih-benih cinta padanya di hati (bukan di tanah gembur) tatkala dua tahun lampau membaca buku ke-5 ibu Rowling itu.
'Looney' Lovegood. Entah karena simpati atau kasihan, saya tidak bisa membedakannya. Tapi saya menaruh hati sejak kemunculannya di buku ke-5. Tapi, (saya memang jenis manusia yang banyak tapinya) saat itu saya tidak menyangka 'Looney' Lovegood bakal diperankan oleh gadis 14 tahun yang menawan. "Terlalu cantik", ujar teman di bangku sebelah dengan tatapan iri. Tentu yang terakhir ini saya buat-buat karena tidak mungkin melihat tatapan orang dengan jelas di bioskop yang gelap. Kalau meraba dengan jelas itu lain hal.
'Looney' memang karakter kedua yang paling saya sukai setelah Snape. Ketiga adalah Neville. Ketiganya memang aneh. Aneh dalam arti tidak seperti orang kebanyakan. "Orang kebanyakan itu seperti apa, Mas. Kebanyakan duit ane juga mau", celetuk teman saya lagi.
Misterius. Kurang begitu diterima oleh lingkungannya, karena tabiat kebiasaannya. Mungkin itu. Mengingat Looney membaca The Quibbler dengan terbalik (kalau saya pernahnya memakai celana dalam terbalik, Anda boleh mencobanya sebagai variasi), memakai pernak-pernik yang norak, melihat benda-benda yang tidak dapat dilihat orang, nyentrik (atau eksentrik saya tidak hapal letak perbedaannya. Akibatnya, orang jenis ini sering 'dilupakan', dijauhi, dan, tentu, dibilang sinting.
Saya hampir memastikan dalam dunia sihir yang sebenarnya, 'Looney' pasti sedikit sekali kawannya. "Berarti sekarang kita hidup di dunia yang tidak sebenarnya donk, say", cerocos teman saya. Ia juga pasti kerap mengurung diri di kamar dengan membaca buku. Sama seperti saya, tapi kalau saya di kamar mandi, dan tidak membaca buku.
Waktu kecil dulu, saya juga sering berbicara sendiri. Bermain sendiri. Tertawa sendiri. Di kamar sendiri. Kemana-mana sendiri. Saya juga tidak punya teman sebaya. Alhasil saya membuat teman sendiri. Mungkin di masa kini, anak seperti itu sudah digolongkan sebagai penderita autis.
Severus pun di masa mudanya adalah korban bullying. Dia dianggap aneh dan selalu dikerjain teman-temannya. Saya paham mengapa tabiat Snape seperti itu. Dan saya benar-benar mengerti akan cinta abadinya terhadap Lily. "Love is an art, bo", kata teman saya mengambil judul buku Erich Fromm yang kenamaan itu.
Sementara Neville, sering gagap dan tidak menarik perhatian. Severus berasal dari keluarga yang tidak terjalin baik relasinya, Luna ditinggal mati ibunya saat kecil. Ibunya juga saya duga aneh dengan percobaan-percobaannya. Neville harus merana karena orangtuanya, yang lebih baik mati, ada di St.Mungo.
Saya tidak perlu menegaskan bahwa saya menyukai kedua karakter itu, dan sedikit pada Neville, karena pengalaman dan jalan hidup mereka sangat dekat dengan hidup saya. Saya kadung mencintai diri mereka dan saya yang misterius. Orang memang selalu memandang sebelah mata pada anggota masyarakat yang eksentrik, dan tidak mau tunduk pada kaidah-kaidah umum.
Tapi orang-orang seperti itu setia pada kelompoknya yang kecil. Setidaknya yang dilakukan Luna dan Severus. Orang-orang yang tidak populer tidak terpengaruh oleh popularitas itu sendiri dan hal-hal turunannya. Mereka menjadi diri mereka sendiri, dan yakin terhadap dirinya.
"During Harry's time at the Lovegood residence, he notices a painting of himself on Luna's bedroom ceiling. Investigating further, he climbs up to discover very lifelike paintings of himself, Hermione, Ron, Ginny and Neville, all interlinked by small gold chains, which, upon closer inspection, he discovers to be the word 'friends', written over and over again in tiny gold lettering. This sight evokes a feeling of great affection within Harry, as it becomes suddenly clear just how much Luna values her friendships", begitu seperti dikutip Wikipedia.
Sementara Severus, secara tak terduga, menyimpan cinta setia yang tak terbagi pada Lily. Walaupun Lily tak pernah memaafkannya, Severus menyatakan kesetiaannya lewat Albus, dan anak Lily.
Neville dan Luna, hanya keduanya yang setia terhadap panggilan Dumbledore's Army untuk mempertahankan Hogwarts dari serangan Pelahap Maut.
Mereka bertiga bukan orang yang populer, dan sepertinya tidak menjadi pilihan pertama bagi orang lain untuk menjadikan mereka sebagai sahabat. Luna dan Severus, mereka berdua dingin dan penyendiri.
Sementara ada banyak orang yang berlomba-lomba menjadi populer, dan takut pada kesendirian. Tapi saya dan mereka tidak.
Dan setelah ini, Anda mungkin menyebut saya aneh.
"Kalau cantik seperti Evanna sih tidak masalah. Kalau aneh, sinting dan jelek kayak ente, yah mau digimanain lagee", sambar teman saya. Ya, maka dari itu saya jatuh cinta.*



