
Ngeri juga ya rasanya baca komentar SBY pada Zaenal Ma'rif. "Jika harga diri dan kehormatan seseorang itu sudah dilanggar, orang itu tidak boleh diam," begitu kata SBY seperti dikutip KCM. SBY pasti berang akibat ulah anggota Dewan yang kini sudah hengkang dari kantornya itu. Lha bagaimana tidak kesal wong SBY dikatakan sudah menikah bukan dengan Ibu Ani dan punya anak sebelum masuk Akabri. Dua lagi anaknya.
"Berita seperti ini tentu akan sangat menghancurkan hati dan perasaan orang tua saya, istri dan anak-anak saya, keluarga besar, kawan-kawan saya sewaktu di SMA, waktu di Taruna, dan sebagainya," tambah SBY di detiknews.com. Duh, saya mencoba membayangkan hancurnya perasaan SBY dan keluarganya, yang sebenarnya tidak bisa dibayangkan, sambil mencari-cari apa pernah ya saya sehancur perasaannya seperti yang hari-hari ini dialami SBY.
Koq SBY sentimentil amat sih, pikir saya sambil mendendangkan lagu 'hancur hatiku mengenang dikau..' yang selanjutnya saya tidak hapal liriknya.
Setelah sedikit merenung-renung, sambil makan juga bersama teman, saya koq jadi ngeri ya kalau seandainya jadi pejabat publik. "Yee, apes banget rakyat yang ente pimpin," kata teman saya disamping. Gimana tidak ngeri, wong belum jadi pejabat publik saja sudah punya setumpuk catatan gak beres tentang hidup saya. "Emang siapa yang kurang kerjaan mau nyatet hidup ente," sosornya lagi. "Dan juga kawan-kawan SMA siapa juga yang mau peduli ama elo?". lanjutnya.
Bagaimana kalo nanti di tengah saya mengemban amanat rakyat (kalau diperhatikan mengapa amanat harus didahului mengemban ya?) ada teman saya yang mulutnya gatel. Entah itu karena tidak suka sikat gigi atau pengennya makan yang enak-enak terus padahal cukupnya cuma untuk tahu tempe saja (padahal kenyataannya kedelai itu diimport loh). Lalu mereka bilang pada media massa bahwa saya dulu pernah tidak naik kelas, atau saya hobinya memplagiasi karya tulis orang waktu kuliah, atau saya ini begitu kejam mencoret nama-nama teman yang menurut saya tidak pantas diikutkan dalam makalah tugas kuliah.
Mereka yang dulu pernah saya kecewakan atau saya tusuk (dari belakang) pasti membuat cerita yang lebih lagi, sesuai kadar sakitnya karena tusukan (dari belakang) itu. Jangan-jangan mereka bakal membeberkan bahwa saya pernah selingkuh, punya istri simpanan atau jangan-jangan bahwa saya ini adalah gay. "Coba gue tahu dari dulu kalau lo itu sakit, sapa sih yang nolak brondong, manis lagi," bisik temen saya sambil menyuap dan sesekali melirik. Dia belum tahu kalau yang manis-manis itu sering dijauhi orang. Gula maksudnya.
Tentu saya bisa memahami kalau mereka pernah sakit hati sama saya. Dan saat saya menjadi pejabat, itu peluang emas untuk bagi mereka yang pernah saya sakiti, entah supaya terkenal, mendapatkan uang dan jabatan, atau iseng. Masalahnya adalah sampai hidup saya yang sekarang ini, saya kerap membuat geram orang dan menusuk-nusuk perasaannya. "Mau donk ditusuk," sambar teman saya.
Mungkin mulai saat ini saya harus membaiki-baiki orang, supaya mereka tidak balas dendam membuka aib-aib saya nantinya. Apalagi kalau mantan-mantan saya yang membuka aib (tentu bukan mantan majikan, karena saya bukan tukul). Duh, bisa repot.
"Makanya cukup korengan aja yang gatel, bagian tubuh yang lainnya jangan ikutan gatel," celetuk teman saya sambil ngeloyor.
Mungkin saya akan mengikuti jejak SBY. Berlindung pada hukum "Dan saya akan gunakan hukum itu dengan tegas dengan determinasi saya, demi tegaknya kebenaran dan keadilan, demi kehormatan dan harga diri saya sebagai seorang warga negara, salah satu dari orang Indonesia dan demi orang tua saya, keluarga saya dan handai taulan saya," ungkap SBY di detiknews.com lagi.
Kalau saya sih demi gak kehilangan pekerjaan saya saja.
"Lalu?," tanya teman saya. Lalu ya bilang ke media bahwa itu kabar bohong, fitnah, jahat. Keterlaluan orang yang memfitnah saya itu. Pikirkan donk bagaimana keluarga saya tertekan mendengar masalah ini. (Tentu bicaranya sambil memakai gerakan-gerakan tangan donk, istilahnya gerakan non-verbal. Supaya kelihatan meyakinkan!) Biar sreg juga ditekankan bahwa itu adalah pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan, dan character assasination.
"Lantas apa beda pejabat dan artis donk kalau begitu?", sambarnya.
Bedanya, kalau hukum tidak mempan, saya akan pakai jurus terisak-isak, seperti yang banyak media beritakan tentang SBY sewaktu mendengar jeritan korban Lapindo yang datang ke Cikeas.
"Setelah itu ente mau apa?" lanjut teman saya. "Ya, naik helikopter dan melambai-lambai, business as usual lah."*


Tidak ada komentar:
Posting Komentar