Desember 21, 2008

Berburu kucing di hari Minggu

Di Parasit Lajang, ada kisah Ayu Utami (atau ibunya) pernah mengasihani musang yang krasak-krosok di atap rumahnya. Akan tetapi saya tidak. Bunyi krasak-krosok di atas atap kamar kos saya tidak bisa ditolerir. Lagipula itu kucing, bukan musang.

Ceritanya beberapa minggu lewat ada kucing beranak di atas atap. Berisiknya menganggu tidur. Si empunya rumah kos segera melakukan pengejaran, dan membuangnya. Sayang, anak kucing kelewat tangguh. Ia kembali ke atas atap. Krasak-krosok berlanjut.

Minggu siang tadi, saya mengeluhkan krasak-krosok itu sama ibu kos. Beliaupun geram. Sempat terpikir untuk meracuni. Rupa-rupanya langit mendengar ratapan saya. Si kucing mungil menampakkan diri di celah-celah antara genting dan atap.

Mulailah perburuan kucing. Bapak kos segera pergi ke genting, membuka beberapa genting. Kami mencari persembunyian kucing laknat penyebar bau. Aksi banyak dibantu Komeng, teman kos. Sayapun membantu, tapi tak banyak. Sangat melelahkan, karena si kucing pindah sana pindah sini. Untunglah cuaca tak terlampau terik.

Takdir memihak manusia. Singkat cerita, dua anak kucing ditemukan dengan susah payah. Mereka bersembunyi di sela-sela kayu-atap. Sementara induk kucing sukses melarikan diri.

Tapi si anak kucing tidak menyerah dengan damai. Ia meronta-ronta di tangan Komeng, yang akhirnya menyerahkan perusuh itu pada sang komandan perburuan, yakni bapak kos. Sambil mendesis-desis, si anak kucing mencoba menggigit. Bapak kos tak lengah. Tengkuk kucing dipegangnya.

Apa yang dilakukan bapak kos setelahnya membuat Komeng terperangah (tapi saya tidak). Pria menjelang sepuh itu dengan sekuat tenaga membanting kucing ke bawah. Ke bawah, maksudnya ke tanah kosong di belakang kos.

Oya, kos saya lantai dua. Perburuan dengan mencopot genting berarti di atas lantainya 2 donk. Nah, mari kita membayangkan bagaimana nasib si kucing dihempaskan sekuat tenaga dari atas lantai 2 (bisa dikatakan lantai 3 kalau begitu)

Eh, ternyata masih ada saudara si kucing mungil itu. Bapak kos dan Komeng bertindak gesit. Kucing kecil tersudut di pojokan dekat genting.

Hewan yang umurnya belum dua bulan itu dikeroyok dua manusia dewasa. Meski kucing melawan, tapi akhirnya nasibnya menyusul saudaranya. Ia dihempaskan (dibanting tepatnya) dari lantai 3.

Saya tersenyum puas. Tapi Komeng masih meratapi nasib kucing. Komeng terus menerus melihat ke bawah. Perburuan dan pembantaian si dua kucing mungil-bersaudara diakhiri dengan membereskan genting-genting. Manusia kembali menjadi penentu hidup mahluk hidup lainnya.

Begitu saya akan turun ke lantai 2, Komeng masih meratapi kucing. Sambil melihat ke bawah, ke tanah kosong belakang kos, ia memperhatikan kucing yang terlempar itu. Kata Komeng kucingnya pingsan tadi, tapi sudah siuman. "Kayaknya kaki belakangnya patah," ujarnya. Saya melengos.

Saya ikut melongok ke bawah. Ya, saya lihat seonggok kucing terbaring. Dua kaki depannya menggapai-gapai, tapi kaki belakangnya tak bergerak. Syukurlah, kata saya dalam hati. Jadi gak ada krasak-krosok lagi.

Perasaan saya dan Komeng memang berbeda. Ia masih kasihan. Tapi saya tidak. Kucing penganggu harus dibasmi. Sayangnya daging kucing tak lazim diolah, batin saya...

***
Sorenya, saya cerita ke Anggi, seorang teman kuliah, tentang perburuan kucing tadi siang. Tak lupa saya tegaskan nasib kucing. Anggi gak suka dengan perlakuan kami yang biadab. Anggi spontan akan marah. Namun ia hanya bisa menghela napas.

Maaf Anggi, saya bukan pecinta kucing. Anggi itu punya kucing kampung, dinamainya pussprit. Konon katanya, Anggi tergerak iba ketika melihat bayi kucing yang mengeong-ngeong sendu di burjo depan kosnya. Anggi, dengan penuh keibuan, lalu mengadopsinya menjadi kucing kos-kosan. Anggi menjadi ibu baptis si kucing yang ditinggal ibu kandungnya itu. Ia merawatnya sampai pussprit beranjak dewasa.

Bahkan pussprit diajari supaya gak eek di dalam kamar. Lehernya dikalungi krincing-krincing. Tiap hari pussprit dibelikan ikan bandeng dari burjo depan kos Anggi. Pada ulang tahun puber si pussprit, Anggi membikinkan akun friendster untuknya. Silakan kunjungi akunnya disini. Resmilah sudah pussprit naik kasta.

Nasib pussprit sungguh bagus. Kucing naas tadi salah tempat. Coba mereka krasak-krosok di atas kamar kosnya Anggi.

1 komentar:

  1. yus akhirnya kucingnya masih hidup tuh,malh bisa naek jg...
    he2x.....
    dasar kucing bernyawa 9..
    ilang atu masih 8 g...
    .....

    BalasHapus

Ramalan Cuaca

Click for Jakarta Observatory, Indonesia Forecast